TKA Matematika Disebut Jeblok, Kepala SMAN 1 Banjarmasin: “Kami Juga Masih Menunggu Nilai Resmi”
kalselsatu.com, BANJARMASIN – Kabar anjloknya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagaimana statement Mendikdasmen, Abdul Mu’ti mendapat respon dari berbagai pihak.
Salah satunya penjelasan datang dari SMA Negeri 1 Banjarmasin. Meski kabar tentang rendahnya nilai matematika beredar luas, pihak sekolah menyebut belum menerima data resmi dari kementerian.
“Saya memang membaca di media sosial dan mendengar bahwa nilai TKA jeblok. Tapi kami belum tahu apakah itu untuk SMA, SMK atau SLB. Untuk SMA sendiri, hasilnya belum kami terima sejauh ini,” kata Kepala SMAN 1 Banjarmasin, Fery Setyawan Amadhy.
Ia menyampaikan bahwa sekolahnya telah menggelar TKA dengan lancar. Total 370 siswa mengikuti tes tersebut.
“Pelaksanaan berjalan baik sesuai juknis kementerian. Anak-anak bisa mengikuti tanpa kendala,” ujarnya.
Meski demikian, Fery tak menampik bahwa siswa mengeluhkan kesulitan soal, khususnya matematika.
“Setelah keluar dari ruang ujian, banyak siswa bilang soalnya berbeda dari yang selama ini diajarkan. Hampir semua soal berbasis penalaran. Itu memang tantangan terbesar,” jelasnya.
Ia mengatakan bahwa sebenarnya sekolah telah melakukan persiapan jauh hari.
“Dua bulan sebelum TKA kami sudah mulai adaptasi. Bahkan kami mendatangkan narasumber dari luar untuk memberi sosialisasi tentang pola soal TKA. Tapi tetap saja, model soal yang muncul jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Fery menambahkan bahwa faktor psikologis turut berpengaruh besar terhadap hasil siswa.
“Karena TKA ini akan menjadi validator nilai rapor untuk masuk perguruan tinggi, tentu anak memiliki beban tersendiri. Tekanan seperti itu tidak bisa dihindari,” katanya.
Terkait penentuan siswa eligible, Fery menegaskan bahwa TKA bukan alat penentu utama.
“Eligibility ditentukan dari rapor dulu. Nilai TKA mengikuti. Kalau rapornya tidak memenuhi syarat, meski TKA tinggi tetap tidak masuk,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa sekolah masih menunggu hasil resmi sebelum melakukan evaluasi besar.
“Kami belum bisa menilai apakah ada disparitas tinggi atau tidak. Menunggu data resmi dulu,” pungkasnya. (ks)

Tinggalkan Balasan